Perlahan bergerak meninggalkan stasiun cikini.. Semakin lama semakin cepat berlari meninggalkan jejak waktu yang kulalui hari ini.. Sebuah catatan tentulah kembali tercipta dengan berbagai coretan segala polah dan tingkah manusia..
Terenung jiwaku.. Apakah hari ini aku mendapatkan bintang.. Sebagaimana yang aku berikan kepada balitaku ketika dia mau belajar melaksanakan kewajibannya.. Entahlah serasa aku tak pantas mendapatkan bintang.. Mungkin kabut lebih layak kudapatkan, sebagaimana kehidupan dunia yang semakin hari semakin berkabut..
Aku dan semua orang setiap hari berlari.. Mengejar mimpi, cita-cita dan harapan.. Yang membedakan adalah rute berlari itu.. Mungkin ada yang berbeda setiap hari, atau bahkan ada yang menggunakan rute yang itu itu saja sehingga hapal didalam kepala.. Bahkan seandainya ia berlari dengan mata terpejampun pasti takkan tersesat..
Aku teringat akan sebuah ikrar yang diucapkan seluruh manusia ketika mereka belum tiba di dunia.. Ada dalam AlQuran.. Ketika Allah bertanya “Apakah kalian mengakui Aku sebagai Tuhanmu” maka kita semua menjawab, “ya Engkau adalah Tuhanku”.. tapi setelah kita tiba di dunia.. Perlahan kita melupakan ikrar suci itu.. dan kita tenggelam dalam hiruk pikuk dunia.. tersesat dalam keremangan kabut yang menutupi pandangan.. terseok dan tertatih.. terjatuh dan terbangun.. Itulah mungkin mengapa kemudian Allah mengatakan kita semua dalam kerugian..
Tapi disana.. diatas bukit bukit itu ada banyak cahaya.. walau tidak terlalu banyak tetapi bisa ditandai untuk kita ikuti.. Sayang untuk mendaki bukit bukit itu nampaknya tidak mudah.. penuh peluh dan bahkan darah..
Pilihan itu kembali padaku.. pada manusia.. pada kita semua.. Akankah terus hidup bersama kabut ataukah hidup bersama cahaya…
Commuterline ku terus melaju…. mengantarku menuju tempat melepas penat dari kabut dunia.. kuharap aku bisa menemukan cahaya..





Komentar Terakhir